Jalan cinta sang pejuang, Syaidina Ali

Bagaimana anda membayangkan orang yang anda cintai akan dilamar oleh orang lain. Pun, anda mengetahui dengan persis orang yang melamar itu adalah orang yang terpandang pula. Diantara pasrah dan tak rela, sudah jatuh luluh lantah tertimpa tangga pula berkepingkeping. Begitulah kiranya penggambaran ketidakmenentuan suasana hati anda ketika itu. Sekiranya, begitu pulalah apa yang dirasakan oleh panglima perang kebanggaan kita, yang begitu gagah di barisan depan medan perang, Syaidina Ali.

Syahdan, Ali muda muai tetarik dengan Fatimah Az-Zahra, yang tak lain adalah putri Nabi SAW, tatkala ia melihat Fatimah dengan sigapnya membasuh dan mengobati luka parah sang ayah kerana berperang. Agaknya, ketelatenanya itu yang membuat Ali terpikat, bahkan mungkin ia membayangkan pula bagaimana kelak Fatimah dapat membasuh segala luka yang ada dalam hatinya. Karenanya, sejak saat itu, Ali berniat untuk mempersunting putri Nabi SAW tersebut.

Alangkah terkejutnya ia, ketika ia tahu bahwa, Abu Bakar hendak melamar pujaannya itu. Ali tahu betul bagaimana Abu Bakar, gagahnya ia ketika berdakwah, begitu banyak bangsawan Mekkah yang masuk Islam karena sentuhan tangan besinya. Begitu banyak budak-budak yang dimerdekakannya. Begitu banyak pengorbanannya di jalan Allah bersama Nabi SAW. Sedangkan ia adalah seorang pemuda miskin yang tidak banyak berbuat untuk masyarakatnya, untuk agamanya. Tentu Nabi SAW akan dengan senang hati menerima Abu Bakar untuk menjadi menantunya.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya sekaligus bahagianya Ali, ketika ia mendengar kabar bahwa Fatimah telah menolak pinangan Abu Bakar. Seketika itu, tumbuhlah kembali tunas harapan serta kasih cinta Ali kepada Fatimah yang sempat layu mendayu itu.

Tak berhenti sampai disitu, sebentar saja, harapan itupun kembali sirna begitu saja. Terdengar pula kabar bahwa Umar Bin Khaththab menginginkan gadis pujaannya itu. Umar yang dikenal sang pemisah kebathilan dengan kebenaran. Siapa yang hendak menyangsikan kecerdasan Umar, siapa pula yang hendak menafikan pembelaan Umar terhadap Islam. Tentu Umar lebih layak dari padanya. Untuk kedua kalinya, lelakai miskin ridha seridharidhanya. Meskipun patah hatinya berkeping-keping cincangnya.

Tak hanya Ali, sekiranya sependuduk Mekkah juga ikut bingung ketika mendengar hembusan angin, bahwa lamaran Umar juga ditolak. Semua orang bertanya-tanya, menantu serupa apa kiranya yang diinginkan Nabi SAW untuk anaknya. Ataukah, Nabi SAW ingin menarik menantu dari kaum Anshar, sehingga dengan pernikahan bisa lebih mengeratkan kekerabatan diantara dua kaum itu. Semua orang mengira-ngira sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mereka.

Agaknya, ini pertanda khusus bagi Ali, setidaknya buat dirinya sendiri. Akankah ini pertanda untuk ia menguatkan hatinya sesegera mungkin merebut kembali pujaan hatinya, dengan bermodalkan baju besinya, baju zirah yang biasa ia pakai untuk berperang di jalan Allah. Sekiranya baju itu ia jadikan mahar hanya untuk mengatakan bahwa ia siap berperang melawan dirinya sendirinya untuk Fatimah, dambaan jiwanya. Dengan keberaniannya melamar tersebut, Ali dianggap sebagai seorang gentelmen sejati. “laa fatan illa ‘aliyyan, tak ada pemuda kecuali Ali,” begitu yel-yel pemuda Arab untuk Ali. Sekiranya Nabi tidak memerlukan menantu segagah Abu Bakar, juga seperkasa Umar. Barangkali, hanya membutuhkan pemuda segentel Ali.

Gayung bersambut, Nabi SAW beserta Fatimah menerima lamarannya. Maka menikahlah mereka dengan baju zirah sebagai maharnya. “maafkan aku, sebelum menikah dengan mu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda,” seloroh Fatimah pada satu ketika. “lalu kenapa engkau mau menikah dengan ku,” seru Ali terkejut mendengar kata Fatimah. Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “karena pemuda itu adalah dirimu.” Kemudian, Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkan mereka dengan maskawin empat ratus fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.

Leave a Reply