Kisah Ismail dan Istrinya

Kisah Ismail dan Istrinya

Nabi Ibrahim pada suatu ketika merasakan rindu yang teramat sangat kepada putranya, Ismail. Kemudian ia meminta izin kepada Sarah yang merupakan istrinya untuk menemui anaknya. Kemudian Sarah mengizinkan dan Nabi Ibrahim pergi ke rumah anaknya.

Sarah pun mengizinkan Nabi Ibrahim menemui Nabi Ismail. Setibanya di rumah Ismail, Nabi Ibrahim tidak bertemu anaknya karena sedang pergi berburu. Nabi Ibrahim mengetuk pintu, Al Juda keluar menemuinya.

“Di mana suami mu?,” tanya Ibrahim, dikutip dari buku Sejarah Kabah karya Prof Dr Ali Husni Al Kharbuthli.

“Dia tidak di rumah. Sedang pergi berburu,” jawab istri Nabi Ismail itu.

“Adakah sesuatu yang bisa kamu hidangkan untuk tamu?,” Ibrahim kembali bertanya.

“Tidak ada, dan tidak ada seorang pun di sini,” jawab menantunya tersebut.

Nabi Ibrahim lalu pulang dan dia menitip salam untuk anaknya Ismail. Tak lama kemudian Nabi Ismail pulang. Dia mendengar dari tetangga tentang perlakuan istrinya kepada ayahnya yang tak mau memberikan hidangan.

Maka Ismail menceriakan istrinya tersebut. Dia kemudian menikah lagi dengan gadis lain bernama Samah binti Muhalhil.

Ternyata Samah lebih baik dari pada Al Juda. Dia begitu menghormati bapak mertuanya kala datang ke rumah untuk menemui Ismail.

“Di mana suami mu?,” tanya Ibrahim.

“Dia sedang berburu dan sebentar lagi akan kembali insya Allah, maka turunlah semoga Allah merahmatimu,” jawabnya.

Ibrahim kembali bertanya kepada sang menantu “Apakah engkau menerima tamu,”.

“Iya,” jawab istri Ismail.

“Apakah engkau mempunyai roti, gandum atau kurma?,”.

Istri Nabi Ismail kemudian mengambil daging dan susu. Lantas Nabi Ibrahim mendoakan keberkahan untuk kedua makanan tersebut.

Seandainya wanita itu membawakan roti, gandum dan kurma, niscaya di bumi Allah ini akan tumbuh lebih banyak gandum dan kurma.

Dari kisah di atas menggambarkan bahwa sudah selayaknya seorang menantu menyayangi dan menghormati mertua sebagai orang tua sendiri. Jangan sampai ada perilaku yang menyinggung atau menyakiti hati mereka. Hormati mereka seperti kamu menghormati orang tua sendiri.

Leave a Comment