Kisah sedih Bilal Bin Rabah dan Abu Dzar

“aku mengusulkan agar demikian dan demikian,” usul Abu Dzar pada sebuah majelis.

“Tidak wahai Abu Dzar, hal itu kurang tepat menurutku,” timpal Bilal mendengar gagasan Abu Dzar.

Mendengar sanggahan Bilal, Abu Dzar terbelalak, lantas seketika itu terpecut hatinya. “beraninya kamu menyalahkanku wahai pria berkulit hitam,” geram Abu Dzar.
Begitulah pangkal perdebatan mereka. Bilal, agaknya tidak mempercayaai Abu Dzar akan berkata demikian kepadanya. Ia terperanjat, ada yang berkecamuk dalam dadanya. Ibunya (kebangsaaannya) dibawa-bawa oleh Abu Dzar hanya gara-gara berbeda dalam berpendapat.

Sambil bergegas, Bilal meninggalkan majelis tersebut, seraya berkata. “Demi Allah, aku akan mengadukan perihal ini kepada Rasulullah,”timpalnya kemudian.
Melihat gegas Bilal, tentu Nabi sudah mengira sesuatu telah terjadi. Dengan bergegas pula, Bilal meminta pendapat nabi. “wahai Rasulullah, maukah engkau mendengar apa yang diucapkan Abu Dzar kepadaku?”

“Apa ang telah dikatakannya, hai Bilal?” jawab Rasulullah. “Dia telah berkata begini,” kata bilal mengadukannya. Seketika itu, terlihat perubahan dari wajah nabi. Barangkali ada kekecawaan pada romannya. Di sisi lain, Abu Dzar pun mulai dijalari rasa gelisah yang amat resah. Tentu ia khawatir Rasulullah akan murka karenanya. Tak membuang waktu, ia pun bergegas kekediaman Nabi. Dengan tubuh yang lunglai ia menghadap nabi dengan tetesan air mata. Kepada Rasul ia memohon, “wahai Rasulullah, mohonkan ampunan Allah untukku,” sesalnya.

“beristigfarlah untukku,” jawab Nabi pendek.

Setelah itu, Abu Dzar lekas menuju mesjid, ia mengejar Bilal yang terlebih dahulu meninggalkan kediaman Nabi. Sepanjang perjalanan yang penuh rasa sesal air matanya terus berlinang. Setelah bertemu Bilal, Ia meraung sejadinya. Ia kemudian menghempaskan pipinya ke tanah. “Demi Allah, wahai Bilal, aku tidak akan mengangkat pipiku, kecuali engkau menginjakkannya dengan kakimu. Engkaulah orang yang mulia, dan akulah orang yang hina,” isak Abu Dzar. Menyaksikan permohonan Abu Dzar, pun Bilal tak tinggal diam. Ia lantas menundukkan tubuhnya, menempelkan pipinya ke pipi Abu Dzar, tanda ia telah memafkan.

Leave a Reply