Kisi-kisi haji mabrur dari Rasulullah

Apalagi yang diharapkan oleh jemaah haji selain predikat mabrur. Bagi setiap jemaah, lelaku di tanah suci dilakukan dengan motivasi predikat tersebut. Tidak hanya soal kemangkusan ibadah, mabrur sesungguhnya menyangkut balasan pahala dari Allah SWT. Seperti sabdanya Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari. “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga.”

Lalu, apa sesungguhnya haji yang mabrur itu? Dan bagaimana pula Rasul memberi petunjuk tentang haji mabrur ini?

Menurut bahasa, mabrur adalah haji yang baik dan diterima oleh Allah SWT. Adapun menurut istilah syar”i, mabrur adalah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasul Nya, dengan memperhatikan syarat, rukun, dan wajib haji, serta menghindari akan hal-hal yang dilarang. Yang kesemua itu dilakukan dengan penuh konsentrasi dan penghayatan semata-mata atas dorongan iman dan mengharap ridha Allah SWT.

Lalu bagaimana kita mengetahuinya, sementara, predikat mabrur tersebut ada di tangan Allah SWT. Dengan kata lain, mabrur adalah hak prerogatif Allah SWT. Sebuah predikat yang IA sematkan kepada hambanya yang dikehendaki NYA.

Namun, sekiranya Rasul telah menggambarkan penerima predikat tersebut. Semacam kisi-kisi dari Nabi untuk mencapai kehendak Allah tersebut. Diantaranya:
Pertama, thayyibul kalam. Yaitu, santun dalam bertutur kata. Artinya, orang-orang yang menjaga lidahnya untuk Allah SWT. Kedua, ifsya’us salam. Yaitu, menebarkan kedamaian. Artinya pula, orang-orang yang gemar mencipratkan bulir-bulir kedamaian kepada orang lain. Tentu tidak hanya kepada orang-orang senegaranya saja, melainkan kepada hamba Allah dari seluruh penjuru dunia. Ketiga, ith’amut tha’am. Yaitu, memiliki kepekaan sosial. Artinya, adalah orang-orang yang selalu membangun jembatan kemanusiaan.

Barangkali, kita yang sudah kembali dari tanah suci bisa mengukur diri, apakah termasuk ke dalam kisi-kisi yang dibayangkan oleh Rasulullah tersebut. Demikian juga kiranya bagi kita yang barangkali sudah punya rencana yang matang untuk menuju NYA, setidaknya sudah punya cara bersikap untuk bertamu ke rumah Allah, tanah suci Mekkah.

Leave a Reply