Sepotong cerita tentang Ali Bin Abi Thalib

Siapa sangka, Ali Bin Abi Thalib, seorang Khalifah keempat dari Khulafa’ Ar-Rasyidin sewaktu lahirnya bernama Haidarah. Sebuah nama yang diberikan oleh ibundanya. Yang kemudian oleh ayahnya diganti Ali. Dimana, masa kanak-kanaknya diambil sebagai anak asuh oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana Nabi pernah diasuh oleh ayah Ali. Karenanya, ketika Nabi diangkat menjadi rasul, Ali adalah orang ke dua yang menerima dakwah Islam setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi.

Sebagai anak asuh Nabi, Ali kecil banyak menimba ilmu, baik ilmu tauhid, maupun segala persoalan-persoalan keagamaan. Oleh karena itu, beliau dikenal sebagai pemuda cerdas yang menguasai ilmu agaman secara mendalam. Sebagaimana dalam sabdanya Nabi mengatakan, “aku kota ilmu pengetahuan sedangkan Ali adalah pintu gerbangnya”. Atas ilmunya itu pulalah, ia menjadi tempat bertanya dan berberita bagi sebagian orang, nasihat dan fatwanya selalu didengar oleh khalifah-khalifah sebelumnya.

Disamping kecerdasannya, Ali juga dikenal sebagai panglima yang tangkas. Keberaniannya menggetarkan hati kawan beserta lawan-lawanya, musuh-musuh Allah. Ia nyaris ikut serta dalam peperangan di masa Nabi, dan selalu berada di garis paling depan.  ‘Zul Fakar’ itulah nama sebilah pedang yang selalu menemaninya di medan tempur. Pedang itu merupakan warisan dari Nabi SAW, mertuanya.

Leave a Reply