Sholat menghormati waktu. Apa itu?

Perihal sholat, adalah rukun yang menandakan seseorang itu adalah muslim. Meskipun demikian, perihal ini ada pula kemudahannya, yaitu, ada semacam pengecualian. Terutama bagi umat Islam yang tengah melakukan perjalanan yang teramat jauh, atau yang biasa disebut dengan musafir.

Lalu, hari ini, perkembangan teknologi transportasi semisal pesawat, telah mampu melipat jarak yang jauh dan lama menjadi dekat dan sebentar. Hari ini, berpergian haji dan umrah bisa dilakakun hanya beberapa jam saja. Namun, perkara sholat tetap saja menjadi soal dalam tataran syarat wajib beserta rukunnya.

Misalnya, soal bersuci, wudhu, tayammum, serta arah sholat. Sebegitu banyak penumpang di pesawat, sekiranya tidak akan mungkin bisa menampung kesemuanya untuk berwudu. Pun, sebelum berwudu, umat Islam juga perlu untuk bersuci. Ketersediaan air ini, tentu juga terkait dengan keselamatan penumpang.

Begitu juga tayammum, tayammum bisa dilakukan apabila menggunakan debu yang berasal dari tanah. Sepertinya, agak diragukan apakah debu di kursi ataupun di badan bagian dalam peswat bisa dilakukan untuk bertayammum?

Maka, jika sederet tata cara sholat, syarat wajib dan rukunnya ridak terpenuhi jika kita sedang berada dalam perjalanan. Maka, yang perlu dilakukan saat waktu sholat tiba adalah tetap melakukan sholat meskipun tanpa bersuci, berwudu, dan menghadap kemana arah perjalanan pesawat.

Namun, jika sudah sampai di tujuan, kita bisa melakukan pengulangan sholat tersebut. Sholat inilah dalam Islam kita kenal dengan sholat menghormati waktu (li hurmatil waqti). Perihal ini, pernah dikemukakan oleh Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Syirazi, dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Kairo: Dar al-Hadits, 2000, Juz 1, Hal. 392.

“Dan melakukan pengulangan sholat bagi orang (sholat) yang tidak menemukan air (untuk berwudhu), tidak pula debu (untuk tayammum). Maka, sholat yang ia lakukan untuk menghormati waktu.”

Leave a Reply